Reog Ponorogo Dalam Pengaruh Aliran Mistis

Reog Ponorogo

Reog adalah kebudayaan asli Indonesia, yang memadukan antara seni topeng, seni teater, seni musik dan seni tari. Reog diperkirakan tercipta sekitar abad ke 12. Reog merupakan salah satu dari sekian banyak kebudayaan Indonesia yang dipengaruhi oleh unsur magis atau gaib.
Keadaan ini sebagian besar dipengaruhi oleh kehidupan nenek moyang orang Indonesia yang mayoritas hidup di masa lalu dimana saat itu merupakan jaman kejayaan kerajaan - kerajaan yang tentu saja masih dipengaruhi oleh hal - hal yang berbau magis, untuk bertahan hidup di masa itu. Hal tersebut terjadi pada saat kerajaan - kerajaan tersebut belum di pengaruhi oleh agama-agama yang kini dianut oleh kebanyakan masyarakat modern.
Oleh karena itu masyarakat yang hidup di jaman dulu sangat identik dengan hal-hal magis seperti ilmu sihir, kesaktian yang mandraguna, makhluk gaib, bertapa, dan hal – hal lain yang sangat mustahil jika dilakukan pada era modern seperti sekarang ini.
Hal inilah yang hingga saat ini ada sebagian masyarakat di Indonesia yang masih mempercayai kekuatan-kekuatan magis yang sejak dulu telah ada. Hingga selanjutnya diturunkan kepada generasi selanjutnya, dan pada akhirnya masih bertahan hingga saat ini.
Masyarakat Indonesia sangat kental dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia magis, begitupun dengan pertunjukan reog. Sejak tecipta di abad ke 12, reog sudah diyakini menggunakan bantuan hal magis (gaib) dari alam lain untuk mendukung pertunjukan.

Baca Juga : Kesenian Kuda Lumping (Jatilan) Perspektif Agama
Seperti misalnya seseorang yang membawa topeng dhadhak merak, ia adalah orang yang paling di yakini memakai bantuan “makluk kedua” dari alam gaib untuk membantu pertunjukan, seseorang yang berada di balik topeng dhadhak merak biasanya disebut juga dengan warok, beliau membawa topeng dhadhak merak dengan cara menggigitnya, padahal berat dari topeng tersebut berkisar antara 50-60 kilogram. Karena topeng tersebut biasanya terbuat dari kulit harimau asli atau kini mulai dibuat dari kulit sapi karena harimau sudah semakin langka dan sudah dilindungi oleh pemerintah, topeng dhadhak merak juga menggunakan bulu-bulu burung merak, tetapi dhadhak merak yang sekarang telah menggunakan bulu– bulu imitasi agar burung merak bisa terjaga kelestariannya.
Selain si dhadhak merak, para penari juga menarikan tarian yang terkesan seperti orang yang sedang kesurupan sehingga masyarakat juga meyakini bahwa para penari reog juga terlibat dalam hal yang bersifat mistis. Para seniman reog biasanya menjalankan puasa dan bertapa beberpa hari sebelum pementasan, sehingga pertunjukan reog bisa mendapatkan bantuan dari hal yang tidak kasat mata.

Baca Juga : Politisasi Kesenian Ledhek Kethek (Topeng Monyet) Perspektif Kemanusiaan
Di kota Ponorogo, reog merupakan salah satu pertunjukan elit yang biasanya hanya di tampilkan pada acara-acara besar & acara tertentu, seperti misalnya penyelenggaraan Festival Reog Nasional (FRN), Festival Reog Mini (FRM) maupun pentas reog bulan purnama (1 suro). Biasanya reog ditampilkan pada saat pesta rakyat sedang berlangsung dan reog menjadi penampilan puncak yang paling ditunggu oleh masyarakat.
Pertunjukan reog biasanya di tampilkan di sebuah alun-alun kota karena reog melibatkan banyak pendukung acara dan rentetan penampilan wajib yang memang harus ditampilkan saat pertunjukan reog, pertunjukan tersebut melibatkan puluhan yang masing-masing telah memiliki tugas penampilan tersendiri.
Pada era tahun 80-90-an saat reog ponorogo menjadi seni yang masih menjunjung tinggi hal-hal yang berhubungan dengan hal mistis, sebelum dilaksanakan pertunjukan reog, biasanya para tetua desa melakukan serangkaian acara untuk menghormati para leluhur. Ziarah menjadi salah satu kegiatan wajib yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan pertunjukan reog.
Makam-makam yang dikunjungi biasanya makam para leluhur ponorogo, atau orangorang penting yang dipercaya masih menjadi bagian dari terciptanya reog maupun terciptanya kota Ponorogo. Ziarah biasanya dipimpin oleh juru kunci pemakaman, dengan diiringi pembacaan doa oleh seorang warok atau sesepuh dan pemilik grup reog terbaik di ponorogo.
Upacara ziarah ini biasanya dihadiri oleh para orang penting di kota Ponorogo, seperti misalnya kepala rumah tangga kabupaten ponorogo, ketua DPRD, bupati ponorogo pejabat lainnya. Setelah rangkaian ziarah selesai dilaksanakan, acara berikutnya ialah kirab pusaka, yaitu kegiatan mengarak 2 buah benda pusaka ke pendopo alun-alun Ponorogo, 2 benda pusaka tersebut ialah berupa tombak bernama tunggal naga dan payung yang bernama tunggal wulung. Pada saat 2 benda pusaka tersebut diarak, benda – benda pusaka tersebut dilapisi dengan kain berwarna kuning. Kedua unsur utama tersebut dianggap sebagai peninggalan bathoro katong, sang pendiri ponorogo.

Sumber : Artikel

1 Response to "Reog Ponorogo Dalam Pengaruh Aliran Mistis"

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...